Pulau Flores

Flores adalah salah satu pulau yang berada di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Flores merupakan Pulau yang indah yang menyimpan banyak keindahan alam dan culture budaya yang dijaga dari generasi ke generasi. Flores termasuk dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan NTB, dengan luas wilayah sekitar 14.300 km². Di ujung barat dan timur Pulau Flores ada beberapa gugusan pulau kecil. Di sebelah timur ada gugusan Pulau Lembata, Adonara dan Solor, sedangkan di sebelah barat ada gugusan Pulau Komodo dan Rinca. Pulau-pulau indah inilah yang menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan di Flores. Dalam kesempatan kali ini kami pun akan memberikan Informasi tentang salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjugi di Flores. Destinasi ini adalah destinasi yang disebut Desa di atas awan, Desa Wae Rebo. Apa itudesa Wae Rebo ? yuk kita simak selengkapnya.

 
Lihat juga: Paket Wisata Komodo

Desa Diatas Awan Wae Rebo

 

Desa Wae Rebo

   desa-wae-reboWae rebo adalah salah satu Desa yang berada di Flores Nusa Tenggara Timur, Indonesia Desayangterletakdiatas ketigggian 1.200 Meter diatas permukaan laut ini merupakan bagian dari Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai Barat, Flores. Wae Rebo yang berpenghuni sekitar 112 Kepala Keluarga atau sekitar 625 jiwa penduduk. Pemandangan nan indah yang kamu bisa jumpai di Desa ini. Desa yang ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing ini selalu menerima wisatawan dengan baik. Kebanyakan wisatawan yang datang kesini ingin menikmati keindahan alam asri bukan hanya itu saja wisatawan yang datang kesini ingin melihat Mbaru Niang yang menjadi ciri khas dari Wae Rebo.

 

Mbaru Niang

bersihRumah Adat Mbaru Niang berada di Pulau Flores Indonesia. Rumah yangsangat unik berbentuk kerucut dan memiliki 5 lantai dengan ketinggian 15 meter, dengan atap yang hampir menyentuh tanah. Atap yang digunakan rumah adat Mbaru Niang ini menggunakan daun lontar. Mirip rumah adat “honai” di Papua, Mbaru Niang adalah rumah dengan struktur cukup tinggi, berbentuk kerucut yang keseluruhannya ditutup ijuk. Mbaru Niang terbuat dari kayu worok dan bambu serta dibangun tanpa paku. Tali rotan yang kuatlah yang mengikat konstruksi bangunan. Setiap mbaru niang dihuni enam sampai delapan keluarga. Rumah yang sangat langka ini dan hanya tersisa beberapa hanya terdapatdi Desa Wae Reboyang teroencil diatas pegunungan Flores. Usaha untuk mengkonservasi Mbaru Niang telah mendapatkan penghargaan tertinggi kategori konservasi warisan budaya dari UNESCO Asia-Pasifik tahun 2012 dan menjadi salah satu kandidat peraih Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur tahun 2013.

 

Tingkatan Lantai Rumah Mbaru Niang

Picture167Setiap lantai rumah Mbaru Niang memiliki ruangan dengan fungsi yang berbeda beda seperti berikut.
1. Tingkat pertama disebut lutur digunakan sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga.
2. Tingkat kedua berupa loteng atau disebut lobo berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari.
3. Tingkat ketiga disebut lentar untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan.
4. Tingkat keempat disebut lempa rae disediakan untuk stok pangan apabila terjadi kekeringan.
5. Tingkat kelima disebut hekang kode untuk tempat sesajian persembahan kepada leluhur.

 

Akomodasi Ke Desa Wae Rebo

perjalanan-ke-waereboUntuk bisa menuju Desa Wae Rebo caranya dengan waktu tempuh sekitar 7 jam dari Labuan Bajo menggunakan mobil sampai ke Desa Denge. Dan dilanjutkan dengan berjalan kaki kepuncak gunung dimana Desa WaeRebo ini berada dengan jarak tempuh ± 9 km.Perjalanan akan melintasi kawasan hutan yang rimbun. Pada saat memasuki hutan, pengunjung akan disambut oleh riuhnya suara kicauan burung fan untuk tiba di Desa Wae Rebo membutuhkan waktu sekitar sekitar 2-3 jam perjalanan.

 

Adat Desa Wae Rebo Yang Harus Dipatuhi

Wae Rebo adalah kampung adat Manggarai Tua yang berusaha untuk melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Salah satu yang dilakukan adalah ritual Pa’u Wae Lu’u. Ritual ini dipimpin oleh salah satu tetua adat Wae Rebo yang bertujuan meminta ijin dan perlindungan kepada roh leluhur terhadap tamu yang berkunjung dan tinggal di Wae Rebo hingga tamu tersebut meninggalkan kampung ini. Tidak hanya itu, ritual ini juga ditujukan kepada pengunjung ketika sudah sampai di tempat asal mereka. Bagi masyarakat Wae Rebo, wisatawan yang datang dianggap sebagai saudara yang sedang pulang kampung. Sebelum selesai ritual ini, para tamu tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan apapun termasuk mengambil foto.
Tetua adat Wae Rebo kemudian akan melakukan briefing kecil tentang beberapa hal yang tabu dilakukan selama para tamu berada di Wae Rebo. Beberapa hal tersebut antara lain adalah memakai pakaian sopan, artinya untuk para wanita tidak diperkenankan memakai tank top atau hot pants, Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah tidak menunjukkan kemesraan, baik itu dengan lawan jenis maupun sejenis, seperti berpegangan tangan, berpelukan atau berciuman, bahkan untuk yang sudah berstatus suami istri. Pengunjung juga diharuskan melepaskan alas kaki ketika masuk ke dalam rumah.

 

Desa Yang Bersih

Desa Wae Rebo ini merupakan Desa yang sangat bersih dari sampah. ketika mkamu baru tiba di Desa ini biasanya akan disambut oleh kepala suku desa. Orang oran di Desaini cukup ramah dengan wisatawan dan pesan pertama saat kamu tiba adalah jangan buang sampah sembarangan. Kebanyakan wisatawan mendengarkan pesan ii terbukti desa Wae Rebo ini tetap bersih walauun banyak dikunjungi wisatawan.

 

Penghasilan Masyarakat

Sehari-hari warga Wae Rebo merupakan petani kopi dan pengrajin kain tenun cura. Saat ini warga Wae Rebo sedang mengembangkan berkebun sayur mayur. Dan saatmemasuki Kawasan Wae Rebo ini kamu akan dikenakan baya administrasi. Biaya Administrasi inilah yang akan digunakan untuk ibu-ibu memasak makanan dan semua keperluan wisatawan selama di Desa ini.

 

Belum adanya Sarana Pendidikan

Walaupun Desa ini terkenal indah. Namun sayang Belum terdapatnya sekolahan di Desa Wae Rebo. Untuk bersekolah biasanya anak-anak harus menuntut ilmu di kampung Kombo, yang artinya mereka sudah harus merantau sejak umur tujuh tahun, kelas 1 SD.