Budaya dan adat Sumba adalah budaya yang bisa menjadi objek wisata menarik untuk mengenal ragam budaya yang dimiliki Indonesia.
Budaya yang dimiliki oleh masyarakat Sumba merupakan tradisi yang sudah turun temurun sehingga sangat melekat dengan kehidupan masyarakat di sana.
Gaya hidupnya, perayaan-perayaan dan juga adat istiadat yang berbeda dengan latar belakang budaya Kamu menjadikan Sumba adalah tujuan wisata budaya yang mengagumkan bagi wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing.
Ingin mengenal lebih banyak mengenai adat Sumba? Berikut adalah beberapa macam budaya dan adat Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Beberapa Budaya Dan Adat Di Sumba

1. Belis – adat seserahan yang diberikan pada mempelai wanita

Kunjungi kampung ini yang terletak di Umbu Ngedo,Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Untuk bisa mengunjungi Kampung Adat Ratenggaro, Kamu harus menyewa kendaraan atau menggunakan jasa travel dari Tambolaka. Wisata di Sumba harus Kamu persiapkan dengan baik dan disarankan bagi Kamu yang baru pertama kali berkunjung ke Sumba, gunakan jasa travel terpercaya agar bisa ke Kampung Adat Ratenggaro.

Kampung Adat Ratenggaro memiliki rumah adat atau Uma Kelada yang unik dengan ciri khas menara menjulang tinggi sampai 15 meter. Atapnya terbuat dari bahan dasar jerami dengan ketinggian atap dapat menunjukkan status sosial keluarga tersebut.

Lihat juga artikel lainnya tentang wisata Sumba

2. Festival Kuda Pasola – perang kuda antar kampung di Sumba Barat Daya Ijing

Festival Kuda Pasola merupakan festival menunggang kuda yang digabungkan dengan aksi melempar lembing yang setiap tahunnya masih diadakan di beberapa daerah di Sumba.
Seperti di budaya Sumba Barat Daya misalnya Pasola diadakan di daerah Kodi.
Pasola juga masih menjadi adat Sumba Barat di mana festival ini diadakan di Wanaloka, Lamboya, dan Gaura.
Pasola sendiri merupakan nama yang didapatkan dari kata sola atau hola yang artinya adalah lembing kayu.
Sehingga Festival Kuda Pasola adalah festival menunggang kuda yang disertai dengan aksi melempar lembing kayu antara dua kelompok kampung yang berlawanan.
Meski sekilas terlihat mengerikan, namun budaya dan adat ini tidak sampai menimbulkan cedera yang berat.
Adat Sumba Barat Daya ini merupakan bagian dari tradisi umat agama Marapu yang merupakan kepercayaan asli orang Sumba dan diadakan secara bergilir setiap tahunnya.
Biasanya Pasola diadakan pada periode bulan Februari sampai bulan Maret.
Sebelum acara puncak Pasola, sebelumnya dilakukan rangkaian adat yang menjadi bagian dari upacara puncak seperti misalnya nyale yang merupakan kegiatan adat mencari cacing laut yang melimpah di pinggir pantai.
Pasola sendiri bagi penganut Marapu merupakan upacara keagamaan besar, sebagai bentuk rasa syukur, dan juga merekatkan hubungan antar kampung yang terlibat dalam festival menunggang kuda.

3. Kede – upacara kematian orang Marapu

Kurang lebih setengah dari penduduk Sumba menganut kepercayaan Marapu yang percaya dengan adanya roh nenek moyang dan leluhur.
Karena itu budaya dan adat Sumba banyak dipengaruhi oleh tradisi kepercayaan Marapu, termasuk upacara kematiannya.
Upacara kematian yang disebut dengan kede ini diwarnai dengan penyerahan hewan ternak oleh keluarga atau kerabat kepada keluarga orang yang ditinggalkan.
Hewan-hewan ternak tersebut kemudian akan disembelih kemudian dimasak dan disajikan kepada para pelayat.
Penyembelihan hewan yang menjadi bagian dari adat Sumba Timur dan daerah lainnya merupakan bentuk persembahan kepada roh nenek moyang dan leluhur yang dipercaya ikut menghadiri upacara pemakaman.
Budaya Sumba Timur ini memiliki makna untuk memanjatkan permohonan kepada Tuhan melalui leluhur dengan menyerahkan hewan-hewan ternak

Tags:
tour sumba | travel ke sumba | sumba trip | paket wisata sumba | paket tour sumba | open trip sumba | sewa mobil di sumba | nihiwatu | sumba island | sumba timur | sumba barat

Reference:
Pulau Sumba, Wikipedia
Sumba Travel, Lonelyplanet
Sumba, Tripadvisor
Sumba, Wikitravel